heider1193

Planologi at Raja Ampat

Teori Perencanaan

Sebagai ahli perencana wilayah dan kota seorang planner harus mampu melakukan pendekatan secara menyeluruh, baik perencanaan dalam linkungan kota (urban) maupun dalam lingkup yang lebih luas yaitu wilayah (regional), dan mencakup segi fisik, sosial, ekonomi, budaya dan bahkan politik. Seorang ahli perencana wilayah dan kota harus mampu memberikan penafsiran-penafsiran untuk masa mendatang, baik jangka pendek, menengah maupun jangka panjang, sesuai tuntutan kebutuhan masyarakat, potensi dan kendala yang ada, serta mampu mewujudkannya ke dalam suatu perencanaan. Perencanaan yang dimaksud adalah perencanaan yang berkait dengan ruang fisik, yang meliputi  kota (urban) maupun wilayah (regional), sebagai hasil analisis dari segi fisik, sosial, ekonomi, budaya,  keamanan, bahkan politik, yang bersama-sama mempengaruhi ruang wilayah dan kota.

I. Pengertian Perencanaan.

Quade (1968) menyatakan bahwa planning adalah penerapan dari metode scientific (ilmiah) bagi pembuat kebijakan. Pengertian perencanaan atau planning dapat dikatakan sebagai suatu kegiatan rencana yang lingkupnya menyeluruh mencakup bidang yang sangat luas, kompleks dan berbagai komponennya saling kait mengait.

(ITB, 1987). Geroge Chadwick (1971) menyatakan bahwa jawaban atas pertanyaan: apakah perencanaan itu? secara sederhana adalah  bahwa perencanaan (planning) adalah suatu proses , yaitu suatu proses dari cara berfikir dan tindakan manusia yang berdasarkan pemikiran tadi – dengan memperhatikan fakta, pemikiran ke masa depan, pemikiran untuk masa depan.

John Glasson (1977) menyatakan  bahwa berbagai definisi perencanaan dapat ditemui, namun pada dasarnya perencanaan merupakan serangkaian tindakan berurutan yang ditujukan pada pemecahan persoalan-persoalan di masa datang.

Djoko Sujarto (1980) menyatakan bahwa perencanaan merupakan suatu usaha pemikiran secara rasional untuk mencapai kebutuhan baru di masa mendatang. Dari definisi yang dinyatakan Djoko Sujarto tersebut, mengandung arti  bahwa perencanaan:

  1. Adanya peramalan kebutuhan di masa datang.
  2. Adanya keinginan pemenuhan kebutuhan yang rasional (dapat dilaksanakan) di masa datang.

Berdasarkan hasil pemikiran beberapa ahli perencanaan yang disebutkan di atas dapat dikatakan bahwa,  perencanaan merupakan serangkaian tindakan berurutan yang merupakan usaha pemikiran secara rasional untuk pemecahan persoalan di masa datang dan untuk memenuhi kebutuhan baru di masa datang.

II. Tahap-tahap perencanaan

Menurut Glasson(1977) tahap-tahap perencanaan adalah:

  1. Identifikasi persoalan.
  2. Perumusan tujuan-tujuan umum dan sasaran-sasaran yang lebih khusus.
  3. Identifikasi pembatas-pembatas yang mungkin.
  4. Proyeksi mengenai keadaan di masa datang.
  5. Pencarian dan penilaian berbagai alternatif.
  6. Penyusunan rencana.

III. Perencanaan Alokatif dan Inivatif

Dalam perencanaan dikenal perencanaan alokatip (allocative) dan inovatip (innovative).

  1. Perencanaan alokatip adalah perencanaan yang bersifat memperbaiki keadaan, efisiensi kegiatan dan penggunaan sumber daya yang ada.
  2. Perencanaan inovatip adalah perencanaan selain memperbaiki keadaan juga merubah struktur dan system yang ada, menentukan sasaran-sasaran baru, perubahan-perubahan baru.

IV. Ruang lingkup Perencanaan

Berdasarkan objeknya, ruang lingkup perencanaan dapat ditinjau dari dua aspek : “substantif” atau “materi” dan “territorial” atau wilayah atau area.

a. Ruang lingkup Substantif Kegiatan perencanaan berdasarkan substantif dikenal ada 3 perencanaan, yaitu:

  1. Perencanaan sosial
  2. Perencanaan ekonomi
  3. Perencanaan fisik

Dalam kenyataannya, ketiga perencanaan tersebut tidak dapat berdiri sendiri, pertimbangan perencanaan sosial akan menyangkut aspek fisik dan ekonomi, demikian pula perencanaan fisik akan menyangku aspek ekonomi dan sosial dan perencanaan ekonomi akan menyangkut aspek sosial dan fisik. Dengan demikian aspek perencanaan yang menyangkut kehidupan yang luas merupakan perencanaan yang sangat kompleks, karena berbagai  hal saling mempengaruhi satu sama lain.

b. Ruang lingkup Teritorial Dalam perencanaan dan perancangan dikenal beberapa lingkup territorial, sebagai berikut :

Wilayah

UU 26/2007 menyatakan bahwa wilayah adalah ruang yang merupakan kesatuan geografis beserta segenap unsur terkait yang batas dan sistemnya ditentukan berdasarkan aspek administratif dan/atau aspek fungsional.

Daerah

Daerah merupakan permukaan yang membentuk suatu wewenang administratif yang ditentukan berdasarkan peraturan perundangan yang berlaku. UU no 32/2004 menyatakan “daerah otonom”, selanjutnya  disebut daerah, adalah kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai batas-batas wilayah yang berwenang mengatur dan mengurus urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Kawasan

UU 26/2007 menyatakan kawasan adalah wilayah yang memiliki fungsi utama lindung atau budi daya. Kawasan lindung adalah wilayah yang ditetapkan dengan fungsi utama melindungi kelestarian lingkungan hidup yang mencakup sumber daya alam dan sumber daya buatan.   Kawasan budi daya adalah wilayah yang ditetapkan dengan fungsi utama untuk dibudidayakan atas dasar kondisi dan potensi sumber daya alam, sumber daya manusia, dan sumber daya buatan. Kawasan dapat juga diartikan sebagai area yang didasarkan pada pengelompokkan fungsikegiatasn seperti kawasan industri, kawasan perumahan, kawasam perdagangan dan lain-lain. Biasanya kawasan yang dimaksud tersebut berada di wilayah perkotaan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: